[News]Sistem Pendidikan Indonesia Terendah di Dunia-infocamps.blogspot.com
Sistem pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah di dunia.
Berdasarkan tabel liga global yang diterbitkan oleh firma pendidikan
Pearson, sistem pendidikan Indonesia berada di posisi terbawah bersama
Meksiko dan Brasil. Tempat pertama dan kedua ditempati Finlandia dan
Korea Selatan, sementara Inggris menempati posisi keenam.
Peringkat itu memadukan hasil tes internasional dan data, seperti tingkat kelulusan antara tahun 2006 dan 2010. Sir Michael Barber, penasihat pendidikan utama Pearson, mengatakan, peringkat disusun berdasarkan keberhasilan negara-negara memberikan status tinggi pada guru dan memiliki "budaya" pendidikan.
Perbandingan internasional dalam dunia pendidikan telah menjadi semakin penting dan tabel liga terbaru ini berdasarkan pada serangkaian hasil tes global yang dikombinasikan dengan ukuran sistem pendidikan, seperti jumlah orang yang dapat mengenyam pendidikan tingkat universitas.
Gambaran perpaduan itu meletakkan Inggris dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan dengan tes Pisa dari Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), yang juga merupakan salah satu tes dalam proses penyusunan peringkat. Pertimbangan-pertimbangan dalam peringkat ini diproduksi untuk Pearson oleh Economist Intelligence Unit.
Peringkat itu memadukan hasil tes internasional dan data, seperti tingkat kelulusan antara tahun 2006 dan 2010. Sir Michael Barber, penasihat pendidikan utama Pearson, mengatakan, peringkat disusun berdasarkan keberhasilan negara-negara memberikan status tinggi pada guru dan memiliki "budaya" pendidikan.
Perbandingan internasional dalam dunia pendidikan telah menjadi semakin penting dan tabel liga terbaru ini berdasarkan pada serangkaian hasil tes global yang dikombinasikan dengan ukuran sistem pendidikan, seperti jumlah orang yang dapat mengenyam pendidikan tingkat universitas.
Gambaran perpaduan itu meletakkan Inggris dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan dengan tes Pisa dari Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), yang juga merupakan salah satu tes dalam proses penyusunan peringkat. Pertimbangan-pertimbangan dalam peringkat ini diproduksi untuk Pearson oleh Economist Intelligence Unit.
Menanggapi hasil penelitian yang dilakukan oleh firma pendidikan
Pearson, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Musliar
Kasim meminta kepada masyarakat agar tidak mudah percaya begitu saja.
Pasalnya, banyak bukti yang menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia
memiliki standar yang baik.
"Jangan mudah percaya. Sekarang, siapa saja bisa membuat survei dengan mengatasnamakan lembaga internasional. Kita lihat buktinya saja sekarang, anak-anak kita banyak yang berprestasi," kata Musliar kepada Kompas.com, Rabu (28/11/2012).
"Jangan mudah percaya. Sekarang, siapa saja bisa membuat survei dengan mengatasnamakan lembaga internasional. Kita lihat buktinya saja sekarang, anak-anak kita banyak yang berprestasi," kata Musliar kepada Kompas.com, Rabu (28/11/2012).
Mengenai status dan perlakuan terhadap guru, ia menegaskan bahwa
pihaknya tidak pernah berhenti memberikan apresiasi yang tinggi kepada
guru. Bahkan, guru sudah merupakan sebuah profesi yang diatur jelas
dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
"Kami selalu memberikan apresiasi lebih pada guru. Guru sudah sebagai profesi saat ini. Gaji guru untuk PNS juga lebih dua kali lipat dibanding PNS lain," ungkap Musliar.
"Jadi sekali lagi, jangan percaya begitu saja pada lembaga survei. Kami terus berbenah untuk menyediakan pendidikan yang baik dan bermutu," tandasnya.
"Kami selalu memberikan apresiasi lebih pada guru. Guru sudah sebagai profesi saat ini. Gaji guru untuk PNS juga lebih dua kali lipat dibanding PNS lain," ungkap Musliar.
"Jadi sekali lagi, jangan percaya begitu saja pada lembaga survei. Kami terus berbenah untuk menyediakan pendidikan yang baik dan bermutu," tandasnya.
Pendiri Surya Institute, Yohanes Surya, mengaku sedih menerima
informasi ini. Namun, dia mengakui bahwa sistem pendidikan Indonesia
memang dalam kondisi yang buruk. Apa sebabnya?
"Sistem pendidikan Indonesia terendah karane kualitas gurunya," ungkap Yohanes Surya kepada Kompas.com di sela peluncuran novel 'Tofi: Perburuan Bintang Sirius' di The Cone, fX Plaza, Jakarta, Rabu (28/11/2012).
Fisikawan ternama ini mencoba membandingkan Indonesia dengan Finlandia yang duduk di peringkat pertama tabel liga Pearson. Menurutnya, kualitas guru di Finlandia memang terbaik di dunia.
"Kita lihat di Finlandia, kenapa bisa masuk peringkat tertinggi? Ya karena yang masuk ke sekolah guru di Finlandia adalah putra-putri terbaik. Jadi para lulusan terbaiknya itu menjadi guru," tuturnya.
"Sekarang kita lihat. Bandingkan dengan guru kita yang di daerah-daerah. Itu guru yang ngajar IPA misalnya adalah guru Olahraga karena enggak ada guru. Akhirnya kualitasnya kacau. Selain itu, guru Matematika misalnya, bisa yang ngajar adalah guru Agama, kacau kan. Jadi kualitas gurunya," tambahnya lagi.
Jika kualitas gurunya sangat baik, Yohanes Surya menjamin, kualitas murid yang dihasilkan pun tak kalah baiknya, bahkan bisa lebih hebat. Dia yakin karena sudah membuktikannya bersama sejumlah guru berkualitas dari Surya Institute dalam membina anak-anak yang dianggap bodoh dari wilayah timur Indonesia untuk menjadi para pemenang olimpiade fisika nasional maupun internasional.
"Artinya apa? Coba kalau di kampung ada guru semacam itu, berarti sama dong kualitasnya, dan semua daerah bisa bangkit kan. Jadi yang membuat rendah itu kualitas guru," katanya.
"Sistem pendidikan Indonesia terendah karane kualitas gurunya," ungkap Yohanes Surya kepada Kompas.com di sela peluncuran novel 'Tofi: Perburuan Bintang Sirius' di The Cone, fX Plaza, Jakarta, Rabu (28/11/2012).
Fisikawan ternama ini mencoba membandingkan Indonesia dengan Finlandia yang duduk di peringkat pertama tabel liga Pearson. Menurutnya, kualitas guru di Finlandia memang terbaik di dunia.
"Kita lihat di Finlandia, kenapa bisa masuk peringkat tertinggi? Ya karena yang masuk ke sekolah guru di Finlandia adalah putra-putri terbaik. Jadi para lulusan terbaiknya itu menjadi guru," tuturnya.
"Sekarang kita lihat. Bandingkan dengan guru kita yang di daerah-daerah. Itu guru yang ngajar IPA misalnya adalah guru Olahraga karena enggak ada guru. Akhirnya kualitasnya kacau. Selain itu, guru Matematika misalnya, bisa yang ngajar adalah guru Agama, kacau kan. Jadi kualitas gurunya," tambahnya lagi.
Jika kualitas gurunya sangat baik, Yohanes Surya menjamin, kualitas murid yang dihasilkan pun tak kalah baiknya, bahkan bisa lebih hebat. Dia yakin karena sudah membuktikannya bersama sejumlah guru berkualitas dari Surya Institute dalam membina anak-anak yang dianggap bodoh dari wilayah timur Indonesia untuk menjadi para pemenang olimpiade fisika nasional maupun internasional.
"Artinya apa? Coba kalau di kampung ada guru semacam itu, berarti sama dong kualitasnya, dan semua daerah bisa bangkit kan. Jadi yang membuat rendah itu kualitas guru," katanya.
sumber:kompas.com
artikel yang sangat menarik sekali buat di simak, ..
BalasHapus